RSS

Bagaimana cara membimbing anak diusia sekolah dasar?

Bimbingan atau konseling disekolah dasar belum terlalu berkembang di Indonesia,oleh karena itu jarang sekali ditemukan konselo disekolah dasar, tetapi bimbingan disekolah dasar sudah mulai diterapakan di sekolah sekolah dasar khususnya di Indonesia.tugas psikolog sekolah di SD menyangkut bimbingan individual maupun kelompok,konseling orangtua,staf maupun murid,pengelolaan data pribadi maupun informasi,penempatan,serta penelitian serta masih banyak tugas lainnya
Tujuan diadakannya bimbingan di SD adalah membantu anak:
1. Menguasai bahan ajaran tuntutan kurikuler
2. Membuat pilihan dan menentukan bahan ajaran yang cocok
3. Memiliki sikap pandangan belajar yang mendukung
4. Mempunyai pola laku belajar yang mendukung
5. Memilih teman bergaul dan membentuk kempok
6. Mengadakan penyesuaian hidup berkelompok
7. Memecahkan masalah masalah belajar yang dihadapi murid
Dalam membimbing anak usia sekolah dasar psikolog harus mampu memahami anak usia sekolah dasar yaitu berusia 6 hingga 12 tahun.
Perkembangan fisik atau jasmani anak sangat berbeda satu sama lain, sekalipun anak-anak tersebut usianya relatif sama, bahkan dalam kondisi ekonomi yang relatif sama pula. Sedangkan pertumbuhan anak-anak berbeda ras juga menunjukkan perbedaan yang menyolok. Hal ini antara lain disebabkan perbedaan gizi, lingkungan, perlakuan orang tua terhadap anak, kebiasaan hidup dan lain-lain.
Perkembangan intelektual anak sangat tergantung pada berbagai faktor utama, antara lain kesehatan gizi, kebugaran jasmani, pergaulan dan pembinaan orang tua.
Perkembangan emosional berbeda satu sama lain karena adanya perbedaan jenis kelamin, usia, lingkungan, pergaulan dan pembinaan orang tua maupun guru di sekolah
Perkembangan emosional juga dapat dipengaruhi oleh adanya gangguan kecemasan, rasa takut dan faktor-faktor eksternal yang sering kali tidak dikenal sebelumnya oleh anak yang sedang tumbuh. Namun sering kali juga adanya tindakan orang tua yang sering kali tidak dapat mempengaruhi perkembangan emosional anak.
Cara membimbing anak diusia sekolah dasar adalah sebagai berikut:
1. Bicaralah dengan anak tentang hari hari di sekolah
2. Mengatur jadwal tidur
3. Review pelajaran.
4. Rencana rutinitas hari sekolah.


SUMBER:
- Sukadji,S. (2000). Psikologi pendidikan dan psikologi sekolah.Depok: Lembaga Pengembangan Sarana Pengukuran dan Pendidikan Psikologi (LPSP3) Fakultas Psikologi Universitas
- http://massofa.wordpress.com/2008/01/25/karakteristik-anak-usia-sekolah-dasar/

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Perbedaan psikologi pendidikan dan psikologi sekolah

Psikologi Berasal dari bahasa Yunani, yang terdiri dari dua kata yaitu : psyche dan logos. Psyche berarti jiwa dan logos berarti ilmu. Jadi, psikologi berarti ilmu jiwa.
William James menganggap psikologi sebagai ilmu pengetahuan tentang kehidupan mental,
Pembahasan kali ini mengenai psikologi pendidikan dan psikologi sekolah,berikut adalah perbedaan psikologi sekolah dan psikologi pendidikan:
1.Pengetian
• Psikologi Pendidikan
adalah salah satu cabang ilmu psikologi yang mengkhususkan diri pada cara memahami pengajaran dan pembelajaran dalam lingkungan pendidikan dalam rangka pencapaian efektivitas pendidikan itu sendiri. Psikologi pendidikan merupakan gabungan dari dua bidang studi yang berbeda. Pertama adalah psikologi yang mempelajari segala sesuatu tentang pikiran dan perilaku manusia serta hubungannya dengan manusia. Tentu saja tidak hanya mempelajari manusia dalam kesendiriannya, melainkan juga mempelajari manusia dalam hubungannya dengan manusia lain.
Kedua adalah pendidikan itu sendiri atau lebih khusus adalah sekolah. Jadi, sebagai sebuah subdisiplin ilmu sendiri dalam psikologi, psikologi pendidikan
memfokuskan diri pada pemahaman proses pengajaran dan belajar yang mengambil tempat dalam lingkungan formal.
• Psikologi Sekolah
dalah salah satu cabang dari psikologi pendidikan yang membahas segala aspek di lingkungan sekolah dan berusaha menciptakan situasi yang mendukung bagi anak didik dalam mengembangkan kemampuan akademik, sosialisasi, dan emosi.
2. tugas dan peran
• Psikologi pendidikan
 menilai pembelajaran dan kebutuhan emosional dengan mengamati dan konsultasi dengan tim multi-lembaga untuk memberikan saran tentang pendekatan terbaik dan ketentuan untuk mendukung pembelajaran dan pengembangan;
 mengembangkan dan mendukung program pengelolaan terapi dan perilaku;
 merancang dan mengembangkan kursus untuk orang tua, guru dan lain-lain yang terlibat dengan pendidikan anak-anak dan remaja pada topik-topik seperti bullying;
 merancang dan mengembangkan proyek-proyek yang melibatkan anak-anak dan kaum muda;
 laporan tertulis untuk membuat rekomendasi formal tentang tindakan yang akan diambil, termasuk pernyataan formal;
 menasihati, negosiasi, membujuk dan mendukung guru, orang tua dan profesional pendidikan lainnya;
 menghadiri konferensi kasus yang melibatkan tim multidisipliner tentang cara terbaik untuk memenuhi kebutuhan sosial, emosional, perilaku dan pembelajaran anak-anak dan kaum muda dalam perawatan mereka;
 memprioritaskan efektifitas: konteks dan lingkungan yang mempengaruhi perkembangan anak dipandang sebagai semakin penting;
 penghubung dengan profesional lain dan memfasilitasi pertemuan, diskusi dan kursus;
 mengembangkan dan mengkaji kebijakan;
 melakukan penelitian aktif;
 merumuskan intervensi yang berfokus pada penerapan pengetahuan, keterampilan dan keahlian untuk mendukung inisiatif lokal dan nasional;
 mengembangkan dan menerapkan intervensi yang efektif untuk mempromosikan kesejahteraan psikologis, sosial, perkembangan emosi dan perilaku dan untuk meningkatkan standar pendidikan.
• Psikologi Sekolah
 Berkonsultasi dengan guru, orang tua, administrator, dan masyarakat penyedia kesehatan mental tentang belajar, sosial, dan masalah perilaku.
 Terlibat dalam kegiatan sekolah dalam aktivitas menyehatkan.
 Membantu pendidik dalam membuat suasana aman, kelas sehat dan lingkungan sekolah yang tenang
 Mengajarkan parenting skill, strategi pemecahan masalah, penyalah gunaan obat obatan terlarang, dan topik lainnya yang berkaitan dengan kesehatan sekolah.
 Melakukan penelitian tentang instruksi yang efektif, manajemen perilaku, program-program sekolah alternatif, dan intervensi kesehatan mental.
 Menilai dan mengevaluasi berbagai masalah yang berkaitan sekolah dan aset anak dan remaja di sekolah yang ditugaskan.
 Intervensi langsung dengan siswa dan keluarga melalui konseling individu, kelompok pendukung, dan pelatihan keterampilan.
 Sajikan sebagai anggota tim interdisipliner untuk memenuhi kebutuhan siswa berisiko dan untuk melayani kebutuhan siswa penyandang cacat melalui penilaian pendidikan khusus, kelayakan, dan proses penempatan.
 Mengkomunikasikan hasil evaluasi psikologis untuk orang tua, guru, dan lain-lain sehingga mereka dapat memahami sifat kesulitan siswa dan bagaimana untuk melayani kebutuhan siswa.
 Melakukan pencegahan krisis dan layanan intervensi.
 Bekerja dengan berbagai masalah emosional dan akademik mahasiswa.
 Boleh melayani satu atau beberapa sekolah di sekitar daerah sekolah atau bekerja untuk sebuah pusat kesehatan mental masyarakat dan / atau dalam lingkungan universitas.
3.Ruang lingkup pekerjaan
• Psikologi Pendidikan,mencakup seluruh aspek yang berhubungan dengan pendidikan, psikolog pendidikan biasa bekerja di lingkungan sekolah, perguruan tinggi dan di lingkungan pendidikan anak, terutama bekerja dengan guru dan orang tua.
• Psikologi sekolah,mencakup aspek yang berhubungan dengan sekolah, sebagian besar dari psikolog sekolah yang bekerja di sekolah umum.Tempat-tempat utama lainnya kerja sekolah swasta, lembaga masyarakat, rumah sakit dan klinik, dan universitas.Psikolog Sekolah umumnya bekerja sebagai praktisi, administrator dan dosen/peneliti.Gelar-tingkat spesialis akan memungkinkan untuk bekerja di kebanyakan negara sebagai praktisi dan administrator (dengan kredensial administratif yang tepat), sedangkan yang memungkinkan untuk praktek sebagai doktor, administrator praktisi fakultas dan peneliti.
Referensi :
Santrock., J.W. (2008). Psikologi Pendidikan (edisi kedua). Jakarta: Prenada Media Group
http://ww2.prospects.ac.uk/p/types_of_job/educational_psychologist_job_description.jsp
http://pembelajaranguru.wordpress.com/2008/05/25/psikologi-pendidikan-sub-disiplin-ilmu-psikologi/

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Apakah pengertian bimbingan dan Apakah tujuan dari bimbingan itu?

Bimbingan didefenisikan sebagi bantuan yang diberikan kepada seseorang kepada orang lain dalam membuat keputusan yang bijaksana dalam penyusaian diri,serta dalam memecahkan masalah mereka.bimbingan bertujuan agar penerima bantuan dapat berkembang mandiri dan mampu bertanggungjawab bagi dirinya sendiri (Jones dkk,1970). Pengertian tetang bimbingan formal telah diusahakan orang setidaknya sejak awal abad ke-20, yang diprakarsai oleh Frank Parson pada tahun 1908. Sejak itu muncul rumusan tetang bimbingan sesuai dengan perkembangan pelayanan bimbingan, sebagai suatu pekerjaan yang khas yang ditekuni oleh para peminat dan ahlinya. Pengertian bimbingan yang dikemukakan oleh para ahli memberikan pengertian yang saling melengkapi satu sama lain. Dari beberapa pengertian bimbingan yang dikemukakan oleh para ahli maka dapat diambil kesimpulan tentang pengertian bimbingan yang lebih luas, bahwa bimbingan adalah :
“Suatu proses pemberian bantuan kepada individu secara berkelanjutan dan sistematis, yang dilakukan oleh seorang ahli yang telah mendapat latihan khusus untuk itu, dimaksudkan agar individu dapat memahami dirinya, lingkunganya serta dapat mengarahkan diri dan menyesuaikan diri dengan lingkungan untuk dapat mengembangkan potensi dirinya secara optimal untuk kesejahteraan dirinya dan kesejahteraan masyarakat”
Tujuan pelayanan bimbingan ialah agar konseli dapat:
1. merencanakan kegiatan penyelesaian studi, perkembangan karir serta kehidupan-nya di masa yang akan datang;
2. mengembangkan seluruh potensi dan kekuatan yang dimilikinya seoptimal mungkin;
3. menyesuaikan diri dengan lingkungan pendidikan, lingkungan masyarakat serta lingkungan kerjanya;
4. mengatasi hambatan dan kesulitan yang dihadapi dalam studi, penyesuaian dengan lingkungan pendidikan, masyarakat, maupun lingkungan kerja.

referensi
Sukadji,S. (2000). Psikologi pendidikan dan psikologi sekolah.Depok: Lembaga Pengembangan Sarana Pengukuran dan Pendidikan Psikologi (LPSP3) Fakultas Psikologi Universitas

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Seseorang yang menderita apakah yang berkebutuhan khusus?

1. Gangguan Indra, mencakup gangguan atau kerusakan penglihatan dan pendengaran.
• Gannguan penglihatan, Anak-anak tunanetra memiliki kebutuhan khusus di rumah dan di kelas.. Mereka harus bergantung pada indra lain untuk belajar berbagai keterampilan hidup sehari-hari bersama dengan tujuan belajar akademik di sekolah.. gangguan visual anak memiliki kebutuhan khusus di setiap bidang kehidupan mereka.
• Gangguan pendengaran,seorang anak yang tuli sejak lahir atau menderita tuli saat masih anak anak biasanya lemah dalam kemampuan berbicara dan bahasanya.banyak anaka yang memiliki gangguan pendengaran mendapatkan pengajaran tambahan diluar kelas reguler.pendekatan pendidikan untuk membantu anak yang punya masalah pendengaran terdiri dari dua kategori yaitu pendekatan oral dan pendekatan manual.

2. Gangguan/Ketidakmampuan fisik,
• Gannguan ortopedik, berupa keterbatasan gerak atau kurang mampu mengontrol gerak karena masalah diotot,tulang atau sendi.
• Gangguan Kejang kejang, yang paling sering dijumpai adalh epilepsi, Kejang adalah masalah neurologik yang relatif sering dijumpai.Diperkirakan bahwa 1 dari 10 orang akan mengalami kejang suatu saat selamahidup mereka. Dua puncak usia untuk insidensi kejang adalah dekade pertamakehidupan dan setelah usia 60 tahun. Kejang terjadi akibat lepas muatanproksimal yang berlebihan dari suatu populasi neuron yang sangat mudah terpicu(fokus kejang) sehingga menganggu fungsi normal otak

3. Radiasi Mental, merupakan kondisi sebelum 18 tahun yang ditandai dengan rendahnya kecerdasan (biasanya IQ dibawah 70) dan sulit beradaptasi dengan kehidupan sehari hari.penyebab radiasi mental disebabkan oleh dua faktor yaitu faktor genetik dan kerusakan otak.
• Faktor geneti,bentuk yang paling umum dari radiasi mental adalah down syndrome,yaitu bentuk radiasi mental yang ditransmisikan sacara genetic sebagai akibat adanya kromosom extra dan Fragile X syndrome yaitu bentuk retardasi mental yang ditransmisikan sebagai akibat adanya kromosom X yang tidak normal
• Kerusakan otak,dapat diakibatkan oleh infeksi atau lingkungan luar,infeksi ibu hamil,sipilis,herpe,AIDS dan lainya.

4. Gangguan bicara dan bahasa, Kemampuan berbahasa merupakan indikator seluruh perkembangan anak. Kurangnya stimulasi akan dapat menyebabntuk radikan gangguan berbicara dan berbahasa bahkan gangguan ini dapat menetap. Penyebab gangguan perkembangan bahasa sangat banyak dan luas, semua gangguan mulai dari proses pendengaran, penerusan impuls ke otak, otak, otot atau organ pembuat suara. Adapun beberapa penyebab gangguan atau keterlambatan bicara adalah gangguan pendengaran, kelainan organ bicara, retardasi mental, kelainan genetik atau kromosom, autis, mutism selektif, keterlambatan fungsional, afasia reseptif dan deprivasi lingkungan. Deprivasi lingkungan terdiri dari lingkungan sepi, status ekonomi sosial, tehnik pengajaran salah, sikap orangtua. Gangguan bicara pada anak dapat disebabkan karena kelainan organik yang mengganggu beberapa sistem tubuh seperti otak, pendengaran dan fungsi motorik lainnya

5. Gangguan belajar,Gangguan belajar meliputi kemampuan untuk memperoleh, menyimpan, atau menggunakan keahlian khusus atau informasi secara luas, dihasilkan dari kekurangan perhatian, ingatan, atau pertimbangan dan mempengaruhi performa akademi.Gangguan belajar sangat berbeda dari keterlambatan mental dan terjadi dengan normal atau bahkan fungsi intelektual tinggi. Gangguan belajar hanya mempengaruhi fungsi tertentu, sedangkan pada anak dengan keterlambatan mental, kesulitan mempengaruhi fungsi kognitif secara luas. Terdapat tiga jenis gangguan belajar : gangguan membaca, gangguan menuliskan ekspresi, dan gangguan matematik. Dengan demikian, seorang anak dengan gangguan belajar bisa mengalami kesulitan memahami dan mempelajari matematika yang signifikan, tetapi tidak memiliki kesulitan untuk membaca, menulis, dan melakukan dengan baik pada subjek yang lain. Diseleksia adalah gangguan belajar yang paling dikenal. Gangguan belajar tidak termasuk masalah belajar yang disebabkan terutama masalah penglihatan, pendengaran, koordinasi, atau gangguan emosional.

6. Attention Deficit Hyperactifity Disorder (ADHD), dalah gangguan perkembangan dalam peningkatan aktifitas motorik anak-anak hingga menyebabkan aktifitas anak-anak yang tidak lazim dan cenderung berlebihan. Hal ini ditandai dengan berbagai keluhan perasaan gelisah, tidak bisa diam, tidak bisa duduk dengan tenang, dan selalu meninggalkan keadaan yang tetap seperti sedang duduk, atau sedang berdiri. Beberapa kriteria yang lain sering digunakan adalah suka meletup-letup, aktifitas berlebihan, dan suka membuat keributan.


7. Gangguan emosional dan perilaku (EBD) merupakan kategori yang luas yang umum digunakan dalam pengaturan pendidikan, untuk kelompok berbagai kesulitan yang lebih spesifik dirasakan anak-anak dan remaja.. Kedua definisi umum serta diagnosis beton EBD mungkin kontroversial sebagai perilaku yang diamati mungkin tergantung pada banyak faktor.
Referensi : John.W.Santrock

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Fenomena pendidikan di Indonesia

Nama Kelompok:
Karin Natalia A (10-037)
EvaViolesia B (10-081)
Yulian Astri (10-071)

Pada kuliah online hari ini yang kami ikuti kami membahas 3 fenomena pendidikan di Indonesia serta mengkaitkannya dengan teori.

FENOMENA PERTAMA
Anak Tidak Mau Sekolah

Dari kasus ini ada seorang anak yang bernama Reza. Baru beberapa hari tahun ajaran sekolah dimulai, Reza tiba-tiba saja mogok sekolah. Ketika ditanya masalahnya, ia tidak mau bercerita. Esoknya, sang Ibu mengetahui dari teman sekelas Reza, kalau kemarin Reza baru dimarahi gurunya karena lupa membawa buku tugas.Kategori usia anak yang suka melakukan mogok sekolah adalah anak-anak yang masih sekolah di tingkat playgroup , TK, atau SD.
Penyebab anak mogok sekolah ada dua hal, yaitu internal dan eksternal. Penyebab internal itu biasanya ada di dalam diri anak (berhubungan dengan karakteristik anak), situasi rumah, dan merasa cemas karena harus berpisah dengan salah satu orang terdekatnya (separation anxiety ), seperti ibu atau pengasuhnya.Sedang faktor penyebab eksternal, lebih ke masalah lingkungan sekolah yang membuatnya merasa tidak nyaman. Misalnya, ternyata mainan di rumahnya lebih banyak dan menarik dibanding di sekolah, teman-teman di sekolah suka mengisenginya (bully ), anak susah beradaptasi dengan lingkungan sekolah, atau gurunya galak.

Dari permasalahan ini teori yang cocok adalah pendekatan behavioral untuk pembelajaran.Pendekatan behavioral menekankan arti penting bagaimana anak membuat hubungan antara pengalaman dan perilaku.Pendekatan behavioris yang sesuai dengan kasus ini adalah pengkondisian klasik.Pengkondisian klasik adalah sebentuk pembelajaran asosiatif dimana stimulus netral menjadi diasosiasikan dengan stimulus yang bermakna dan menimbulkan kemampuan untuk mengeluarkan respons yang serupa.Pengkondisian klasik dapat berupa pengalaman positif dan negatif dalam diri anak di kelas.Dalam kasus ini Reza mendapatkan pengalaman negatif.Ia dimarahi oleh gurunya ketika lupa membawa buku.Ia mengasosiasikan sekolah itu terdapat guru yang sangat galak sehingga ia tidak mau sekolah lagi dan karenanya teguran itu menjadi CS untuk rasa takut.Teori pengkondisian klasik ini sangat baik untuk membantu kita untuk memahami kecemasan dan ketakutan murid.

Solusi yang kami tawarkan untuk kasus ini adalah :
Solusi yang kami tawarkan terletak pada peran keluarga khususnya kedua orangtua.
1.Orangtua jangan mengomeli anaknya yang mogok sekolah.Orang tua harus ingat, cara berpikir anak, kan, belum sedewasa orang tua, karenanya ketika ia diperlakukan seperti itu ia akan berpikir negatif.
2,Teknik Mundur Perlahan.
Jika memang masalahnya karena separation anxiety , coba selesaikan dengan teknik ‘mundur berkala’ atau Systematic Desensitization .Ibu atau significant other -nya harus mulai mengurangi kehadirannya saat anak berada di sekolah.
3.Diskusi Dua Arah
Jika memang masalahnya bukan karena separation anxiety , ajaklah ia berkomunikasi agar bisa mengindentifikasi perasaan anak. Usahakan diskusi dilakukan dari hati ke hati, dua arah, dan dengan menekankan mengapa anak mogok sekolah.
4.Memberi semangat
Ketika anak bisa menguasai rasa takutnya dan mau sekolah lagi, usahakan selalu memberikan mereka pujian kasih sayang, bukan hadiah barang karena yang dibutuhkan adalah dukungan mental.

FENOMENA KEDUA
Ribuan Siswa Putus Sekolah

Kasus yang kedua ini adalah mengenai ribuan anak di Indonesia putus sekolah karena tidak adanya biaya sekolah dan tidak ada motivasi si anak,tidak adanya motivasi belajar anak membuat mereka malas dan membuat mereka putus sekolah

Undang-undang mengatakan bahwa warga negara yang berumur 6 tahun berhak mengikuti pendidikan dasar. Sedangkan warga negara yang berumur 7 tahun berkewajiban untuk mengikuti pendidikan dasar atau pendidikan yang setara sampai tamat. Pendidikan dasar merupakan pendidikan yang lamanya 9 tahun yang diselenggarakan selama 6 tahun di SD dan 3 tahun di SLTP atau sederajat. pendidikan merupakan hak yang sangat fundamental bagi anak. Hak yang wajib dipenuhi dengan kerjasama paling tidak dari orang tua siswa, lembaga pendidikan dan pemerintah. Pendidikan akan mampu terealisasi jika semua komponen yaitu orang tua, lembaga pendidikan dan pemerintah bersedia menunjang jalannya pendidikan. Banyak faktor yang menjadi kendala agar pendidikan dapat terealisasikan. Seperti misalnya saja dari faktor orang tua, tidak semua orang tua mau menyerahkan anaknya untuk bersekolah. Mayoritas dari mereka berasal dari keluarga kurang mampu sehingga tidak memiliki dana yang cukup untuk membiayai pendidikan putra-putrinya di sekolah formal. Faktor yang lainnya yaitu faktor lembaga pendidikan yang menyediakan sarana dan prasarana pendidikan

Motivasi adalah sebuah alasan atau dorongan seseorang untuk bertindak. Orang yang tidak mau bertindak sering kali disebut tidak memiliki motivasi. Alasan atau dorongan itu bisa datang dari luar(ekstrinsik) maupun dari dalam diri(intrinsic).Di kasus ini ribuan anak ini tidak ada motivasi intrinsic maupun ekstrinsik,seharusnya membutukan motibasi,misalnya motivasi  inteinsiknya berupa dorongan dari dalam dirinya untuk tetap melanjutkan sekolah sedangkan motivasi ekstrinsiknya adalah dorongan dari orangtua,orangtua seharusnya mendukung anaknya dalam sekolah bukannya menguruh sianak bekerja untuk menafkai keluarga padahal pada zaman sekarang ini pemerintah sudah  sekolah gratis yang walaupun terkadang pelaksanaanya masih berantakan,
Teori yang kami gunakan selanjutnya adalah Teori McClelland (Teori Kebutuhan Berprestasi).Dari McClelland dikenal tentang teori kebutuhan untuk mencapai prestasi atau Need for Acievement (N.Ach) yang menyatakan bahwa motivasi berbeda-beda, sesuai dengan kekuatan kebutuhan seseorang akan prestasi.dari kasus ini terlihat bahwasannya ribuan anak yang putus sekolah itu karena tidak ada motivasi untuk berprestasi disekolah sehingga menyebabkan mereka untuk malas sekolah.

Solusi yang kami buat dalam kasus ini adalah diibutuhkan kesadaran bagi setiap elemen masyarakat baik orangtua maupun anak ,orangtua baiklah mendukung anaknya belajar dan juga anak seharusnya memiliki keinginan untuk berprestasi agar tercapai kehidupan yang lebih baik,pemerintah juga seharusnya memperbaiki system pendidikan yang sudah ada misalnya menyalurkan bantuan dana pendidikan secara merata bagi orang yang datang dari keluarga tidak mampu.

FENOMENA KETIGA
Aku Enggak Mau Sekolah Ma !

Kasus ini mengenai peristiwa yang dialami oleh Dwi Agung Cahyono, siswa kelas IX D, SMPN 6 kota Probolinggo pertengahan bulan Februari lalu. Dwi Agung mengaku dihukum gurunya dengan mengunyah kapur tulis. Alhasil, sebagian dari kapur tulis tersebut tertelan ke perutnya, sehingga perutnya mulas, setelah kejadian tersebut. Hukuman tersebut diberikan karena Dwi Agung tidak mengerjakan PR (pekerjaan rumah) mata pelajaran Matematika. Akibat kejadian itu, Dwi menjadi trauma dan enggan masuk sekolah.

Teori yang sesuai dengan kasus ini adalah pendekatan behavioris dalam pembelajaran. Pendekatan behavioral menekankan arti penting bagaimana anak membuat hubungan antara pengalaman dan perilaku.Pendekatan behavioris yang sesuai dengan kasus ini adalah pengkondisian operan yang merupakan sebentuk pembelajaran dimana konsekuensi-konsekuensi dari perilaku menghasilkan perubahan dalam probabilitas perilaku itu akan diulangi.Hukuman(punishment) yang diberikan guru menurunkan probabilitas terjadinya suatu perilaku.Sebenarnya daripada diberikan punishment lebih baik guru tersebut memberikan reinforcement.Dengan adanya punishment tadi si anak menjadi tidak mau sekolah lagi.Karena punishment yang diberikan guru anak tadi menjadi trauma.
Trauma karena hukuman guru adalah ketidaksiapan seorang anak menghadapi suatu kejadian. Dapat dikarenakan hukuman datangnya tiba-tiba dan secara kualitas atau kuantitas. Beberapa tanda bila anak mengalami trauma di sekolah adalah menolak sekolah dengan segala alasan yang tidak dapat dijelaskan. Seperti malas bangun pagi, atau bangun pagi dengan rewel, tidak segar, dan ada juga yang sering mimpi buruk yang tidak dapat ia jelaskan alur cerita mimpinya, menolak berpakaian sekolah, makan sarapannya dengan lambat, mual dan atau demam, pusing dan sakit kepala di pagi hari menjelang sekolah.

Solusi yang kami berikan untuk kasus ini adalah:
Dengan bimbingan orangtua kepada anak tersebut  misalnya orangtua menjaga anak tersebut untuk sementara waktu untuk menghilangkan trauma.Apabila trauma anak itu sudah cukup parah akan lebih baik jika anak tersebut diajak konseling dengan psikolog sehingga anak tersebut bisa kembali seperti sebelumnya.untuk dapat mengurangi hal seperti ini terjadi lagi juga diperlukan pembenahan dari para pendidik.Sebaiknya dilakukan pengawasan bagi para pendidik dan juga meningkatkan standar untuk bisa menjadi seorang pendidik.Sebelum ditetapkan sebagai pendidik akan lebih baik jika dilakukan sebuah tes apakah orang tersebut cocok atau tidak untuk menjadi seorang pendidik.Orangtua juga harus selalu mengawasi anak,denga cara memberi perhatian misalnya menanyakan kepada anak apa yang dilakukan disekolah,belajar tentang apa serta bentuk perhatian lainnya.

Dari ketiga fenomena ini dapat kami simpulkan bahwa peranan keluarga sangat penting dalam memotivasi anak dalam hal pendidikan.
       Teori Tentang Bimbingan Orang Tua
Kegiatan belajar diperlukan adanya bimbingan dari orang tua atau dan  orang lain agar semangat dalam belajarnya.Keluarga sebagai tempat pertama pertumbuhan dan perkembangan sangat menentukan peranannya.
Menurut Kartono (1991;63) bahwa "Orang tua merupakan orang pertama dan utama yang mampu, serta berhak menolong keturunannya dan mendidik anaknya". Orang tua peranannya dalam keluarga dan dapat menciptakan ikatan emosianal dengan anaknya, menciptakan suasana aman dirumah sehingga orang tua/rumah merupakan tempat anakuntuk kembali, menjadi contoh/model bagi anaknya, memberikan disiplin dan memperbaiki tingkah laku anak, menciptakan jaringan komunikasi diantara anggota keluarga.
Pengawasan dan bimbingan orang tua dirumah mutlak diperlukan karena adanya bimbingan, orang tua dapat mengawasi dan dapat mengetahui segala kekurangan dan kesulitan anak dalam belajarnya. Gunarso (1983;64) menyatakan sebagai berikut :
"Orang tua berperan besar dalam mengajar, mendidik, memberikan bimbingan, dan menyediakan sarana belajar serta memberi teladan pada anak sesuai dengan nilai moral yang berfaku atau tingkah laku yang perlu dihindari".
Bimbingan dari orang tua dapat juga berperan sebagai cara untuk peningkatan disiplin terutama dalam belajarnya. Ahmadi (1991;82) menyatakan bahwa "Anak belajar memerlukan bimbingan dari orang tua agar sikap dewasa dan tanggung jawab belajar tumbuh pada diri anak".

Bimbingan yang diberikan oleh orang tua di rumah dapat meningkatkan motivasi belajar anak selain bimbingan dari seorang guru dari la belajar, dengan motivasi yang kuat seseorang sanggup bekerja ekstra keras dalam pencapaian sesuatu. Motivasi belajar yang baik diharapkan timbul dari dalam diri sendiri. (motivasi intrinsik)
Evers (1985;41) mengatakan bahwa "Anak didik harus mempunyai motivasi yang kuat untuk mengikuti kegiatan pendidikan yang sedang berlangsung. Kalau mereka mempunyai motivasi maka mereka akan menunjukkan minat, aktivitas dan partisipasi dalam kegiatan pendidikan". Dari pendapat ini seorang anak apabila mempunyai motivasi yang kuat dalam belajarnya akan dapat meningkatkan prestasi belajarnya, akan tetapi tidak semua anak bisa mempunyai molivasi ini, banyak anak yang menjadi siswa yang dalam proses belajar kurang atau tidak mempunyai motivasi, maka diperlukan bimbingan belajar dari orang tuanya. Menurut Nio bimbingan belajar yang dimiliki meliputi;"Mengawasi penggunaan waktu belajar anak di rumah; mengenal kesulitan-kesulitan anak dalam belajar; menolong mengatasi kesulitan anak dalam belajarnya". (dalam Kartono, 1985;92). Penulis akan membahas mengawasi penggunaan waktu belajar anak dl rumah dan membantu menolong mengatasi kesulitan anak dalam belajarnya.

Dari pendapat diatas, adanya bimbingan yang dilakukan oleh orang tua kepada putra-putrinya dalam melakukan kegiatan belajar di rumah akan berpengaruh terhadap tingkah laku yang mengarah kepada kedisiplinan dalam belajar. Motivasi yang diberikan kepada anak hendaknya mengarah pada peningkatan motivasi yang kuat untuk mengikuti kegiatan pendidikan. Situasi ini dapat tercipta apabila terjadi ikatan emosional antara orang tua dengan anaknya. Suasana rumah yang aman membantu anak untuk mengembangkan dirinya untuk menuju masa depan.

Referensi pembahasan:

Santrock., J.W. (2008). Psikologi Pendidikan (edisi kedua). Jakarta: Prenada Media Group

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS